Sebutan muslim teroris, secara kategoris mengandung contradictio-interminis, karena sejatinya, seorang muslim bukanlah teroris. Karena Islam sangat jelas melarang terorisme maka idealnya seorang muslim tak mungkin menjadi teroris. Tapi pada faktanya, ada Abdul Azis alias Imam Samudra, Amrozi, dan kawan-kawannya.
Mengapa ada muslim yang menjadi teroris? Ada banyak sebab. Dari sudut pandang agama bisa dijawab dengan mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah dengan segala kekurangan. Tentang kekurangan manusia banyak sekali disebutkan, baik dalam al-Quran maupun Hadits. Dalam satu ayat al-Quran misalnya disebutkan bahwa ketika manusia diciptakan Allah, sudah inheren dalam jiwanya dua potensi: (1) berbuat kebajikan (dimensi takwa); dan (2) berbuat kejahatan (dimensi fujur). Dan, seseorang yang sudah memeluk Islam pun, tak ada jaminan untuk bisa menghindarkan diri dari dimensi fujur, karena manusia memang tempatnya kesalahan dan kealpaan (mahal al-khatha wa al-nisyan). Bahkan Rasulullah yang ma’shum sekalipun, suatu ketika pernah berbuat kesalahan walaupun ringan. Itu yang pertama.
Kedua, seorang muslim juga bisa menjadi teroris karena pemahamannya yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Dari segi metode, mereka yang cenderung memahami agama secara literal (dhahiry) misalnya, akan potensial menjadi pemeluk agama yang ekstrem. Demikian juga yang dangkal (setengah-setengah) ilmu agamanya. (Baca, Dr. Yusuf Qardhawi, Islam Ekstrem: Analisa dan Pemecahannya, Bandung: Mizan, 1985). Di antara aspek agama yang paling sering ditafsirkan secara literal dan dangkal adalah konsep mengenai jihad fi sabilillah yang dianggap identik dengan aksi-aksi fisik seperti perang mengangkat pedang, senapan, atau meledakkan bom.
Selain itu, ketidakadilan politik global juga sangat potensial melahirkan teroris, termasuk dari kalangan muslim. Kebijakan politik dunia yang tidak adil terhadap beberapa negara muslim misalnya, telah menimbulkan perlawanan dari segenap muslim yang menyadari betul ketidakadilan itu. Sialnya, karena tidak berdaya melawan secara terang-terangan, ada di antaranya yang menempuh jalur inkonvensional, yakni dengan cara kekerasan dan teror. Jika Amrozi, Abdul Azis, dan kawan-kawan, sebagaimana diakui keduanya, merupakan perlawanan terhadap Amerika. Maka, teror yang ditempuh para smertniki Chechnya merupakan perlawanan terhadap Rusia.
Kalau memang demikian, cara yang paling proporsional untuk menghindari kemungkinan tindakan teror, bagi muslim adalah dengan cara memperbaiki kembali pemahaman dan implementasi keislamannya. Pemahaman yang sempit dan dangkal harus diperluas dan diperdalam; pemahaman yang subyektif individual harus diobyektivikasi sehingga konstruktif secara sosial.
Sementara itu, bagi Amerika dan Rusia harus meninjau kembali dan memperbaiki kebijakan-kebijakan politik hubungan internasionalnya. Sayangnya, baik Amerika maupun Rusia (terutama Amerika) tampaknya tidak menyadari (atau pura-pura tidak tahu) adanya k
etidakadilan dari kebijakan-kebijakan politik internasional yang ditempuhnya. Lantas, untuk menghapus terorisme, bukannya dengan cara memperbaiki kebijakan-kebijakan yang ditempunya, malah dengan menempuh jalan pintas: menggalang kekuatan dan menyerukan perang terhadap terorisme.
Padahal, pada hakikatnya perang adalah teror juga. Perbedaan antara perang dan teror hanya sebatas prosedural. Yang pertama legal yang kedua ilegal. Pada faktanya sama saja, berupa pembantaian massal. Dan, karena pembantaian akan menimbulkan trauma dan dendam kesumat yang berkepanjangan maka, tampaknya, teror pun kemungkinan besar tidak atau belum akan lenyap dari muka bumi.
Kedua, seorang muslim juga bisa menjadi teroris karena pemahamannya yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Dari segi metode, mereka yang cenderung memahami agama secara literal (dhahiry) misalnya, akan potensial menjadi pemeluk agama yang ekstrem. Demikian juga yang dangkal (setengah-setengah) ilmu agamanya. (Baca, Dr. Yusuf Qardhawi, Islam Ekstrem: Analisa dan Pemecahannya, Bandung: Mizan, 1985). Di antara aspek agama yang paling sering ditafsirkan secara literal dan dangkal adalah konsep mengenai jihad fi sabilillah yang dianggap identik dengan aksi-aksi fisik seperti perang mengangkat pedang, senapan, atau meledakkan bom.
Selain itu, ketidakadilan politik global juga sangat potensial melahirkan teroris, termasuk dari kalangan muslim. Kebijakan politik dunia yang tidak adil terhadap beberapa negara muslim misalnya, telah menimbulkan perlawanan dari segenap muslim yang menyadari betul ketidakadilan itu. Sialnya, karena tidak berdaya melawan secara terang-terangan, ada di antaranya yang menempuh jalur inkonvensional, yakni dengan cara kekerasan dan teror. Jika Amrozi, Abdul Azis, dan kawan-kawan, sebagaimana diakui keduanya, merupakan perlawanan terhadap Amerika. Maka, teror yang ditempuh para smertniki Chechnya merupakan perlawanan terhadap Rusia.
Kalau memang demikian, cara yang paling proporsional untuk menghindari kemungkinan tindakan teror, bagi muslim adalah dengan cara memperbaiki kembali pemahaman dan implementasi keislamannya. Pemahaman yang sempit dan dangkal harus diperluas dan diperdalam; pemahaman yang subyektif individual harus diobyektivikasi sehingga konstruktif secara sosial.
Sementara itu, bagi Amerika dan Rusia harus meninjau kembali dan memperbaiki kebijakan-kebijakan politik hubungan internasionalnya. Sayangnya, baik Amerika maupun Rusia (terutama Amerika) tampaknya tidak menyadari (atau pura-pura tidak tahu) adanya k
etidakadilan dari kebijakan-kebijakan politik internasional yang ditempuhnya. Lantas, untuk menghapus terorisme, bukannya dengan cara memperbaiki kebijakan-kebijakan yang ditempunya, malah dengan menempuh jalan pintas: menggalang kekuatan dan menyerukan perang terhadap terorisme.Padahal, pada hakikatnya perang adalah teror juga. Perbedaan antara perang dan teror hanya sebatas prosedural. Yang pertama legal yang kedua ilegal. Pada faktanya sama saja, berupa pembantaian massal. Dan, karena pembantaian akan menimbulkan trauma dan dendam kesumat yang berkepanjangan maka, tampaknya, teror pun kemungkinan besar tidak atau belum akan lenyap dari muka bumi.

9 komentar:
Sepakat dengan pemikirannya.
Nice reading
Sepakat! Islam itu tidak pernah mengajarkan terorisme dan pembantaian. sebaliknya kita diajarkan untuk santun dan penyayang kepada sesama.
sedikit comment untuk artikel ini.
saya gak mengomentari banyak, karena saya yakin kita akan berbeda pandangan dalam beberapa hal menyangkut label TERORIS yang diperuntukan buat mereka2 (dalam tanda kutip).
saya sedikit setuju dengan pandangan anda bahwa, ketidakadilan politik global juga sangat potensial melahirkan teroris.
adanya diskriminasi global ini melahirkan tindakan2 perlawanan. tapi kita harus ingat, bahwa radikalisme di dunia islam lahir bukan karena perbedaan agama, suku, atau apapun namanya. dia lahir hanya karena diskriminasi.
hanya saja, kebetulan yang merasa terdiskriminasi adalah umat Islam. dan yang dilawan hanyalah arogansi amerika dan sekutunya, bukan umat agama lain.
kita terjebak dengan opini media yang di komporin oleh Amerika dan sekutunya, sehingga tindakan perlawanan terhadap mereka seakan2 dilakukan atas nama AGAMA. padahal TIDAK. itu murni perlawanan karena ketidakadilan global.
AS dan sekutunya sengaja menyeret umat islam dalam konflik global ini. dengan memberi label kaum fundamentalis Islam buat mereka yang memberi perlawanan. MEREKA sangat licik dan picik.
wassalam.
Bang ROe benar. radikalisme di dunia islam lahir bukan karena perbedaan agama, suku, atau apapun namanya. dia lahir hanya karena diskriminasi. ada permainan stigma barat sebagai newspeak untuk membatasi pandangan dan realita sehingga kata-kata teroris, fundamentalis, ekstrimis, dan kelompok radikal diucapkan maka konotasinya tidak jauh dari negara timur tengah. yang notabenenya negri-negri Islam. Bisa jadi karena Clash Of Civilization. Boleh dikatakan, benturan Islam Barat yang terjadi merupakan kelanjutan dari benturan yang pernah terjadi pada masa lampau, khususnya perang salib. Persetruan antara Islam dan barat semakin meruncing setelah runtuhnya ikon kegagahan Amerika WTC 11 September 2001.
Adapun pemahaman yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Dari segi metode, mereka yang cenderung memahami agama secara literal (dhahiry) misalnya, akan potensial menjadi pemeluk agama yang ekstrem. Demikian juga yang dangkal (setengah-setengah) ilmu agamanya. aspek agama yang paling sering ditafsirkan secara literal dan dangkal adalah konsep mengenai jihad fi sabilillah yang dianggap identik dengan aksi-aksi fisik seperti perang mengangkat pedang, senapan, atau meledakkan bom.
Aku sekapakat dengan pemikiran mbak, yang saya sayangkan kenapa teroris2 tersebut mengatas namakan agama islam dalam melakukan perlawanan, yang jelas-jelas islam itu agama yang cinta damai, tidak ada ajaran islam begitupun ajaran agama lain yang menyusuh menganutnya (umatnya) membunuh sesama.
Alhamdulillah, keluargaku dan beberapa sepupuku muallaf setelah Islam di desuskan sebagai terorist 16 orang dlm 2 bln (Alhamdulillah)... Untuk kebenaran buka hati pertajam pemikiran, hindari teks book yg kontektual, jd qta ga jd korban media... cari fakta dengan tangan bukan dgn telinga (copy-paste info yg akhirnya jd keyakinan instan)...
Allahu Akbar...
Putty Angelica
Alhamdulillah saya bersyukur bisa berkenalan dengan Putty Angelica Laurent. Mudah-mudahan selalu mendapat hidayah Allah, amien....
Allahu Akbar....
Memang bicara tentang terorisme tidak lepas dari bicara sudut pandang atau persepsi. Ada orang yang mengatakan si A itu teroris, tapi di sisi lain ia dipuja sebagai pahlawan.
Ibrohnya adalah setiap diri kita dituntut untuk MAU menggali informasi sebanyak2nya sehingga tidak mudah terjebak dalam arus salah satu opini saja.
Untuk membela islam kita bisa dibunuh atau membunuh (QS 9 : 111) dlm QS 9 : 60 ; "Takut2ilah musuh2 kamu (kaum muslimin) dan musuh2 Alloh" me-nakut2i sama dgn "meneror" Bbrp ayat diatas sdkt mengingatkan kita, bhw kita tdk hrs serta merta menyudutkan saudara2 kita yang tlh berjihad dgn jiwa dan hartanya, Kalau kita blm bs memperjuangkan islam scr ofensif, mari berdo'a saja walaupun itu adalah se-lemah2 iman. Mhn ma'af bl tdk sempurna.
Posting Komentar