Catatan Fina


Mo nanyak nih Om & Tante… apakah semua pengikut FPI mengerti syariat Islam?……






Saya rasa pemahaman mereka yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Dari segi metode, mereka yang cenderung memahami agama secara literal (dhahiry) misalnya, akan potensial menjadi pemeluk agama yang ekstrem. Lihat aja kasus razia di bulan ramadhan… Mereka bertindak keras terhadap warung-warung makan yang dianggap tidak menghormati bulan puasa.

Massa FPI menjadi beringas saat mengetahui ada tempat makan yang berjualan secara terbuka. Mereka merusak warung itu dan memukul seorang pelanggannya. Sedangkan sang pemilik tak bisa berbuat apa-apa.

warung-warung itu memang harus buka, sebab banyak orang yang tidak berpuasa, seperti non-Muslim, atau Muslim tapi musafir, sakit, hamil, dan tetap butuh makan. Bagi kita yang puasa, ya tak perlu lihat warung-warung itu. Penghargaan dan pahala puasa itu dari Allah, bukan dari tukang-tukang warung itu. Saya jadi kuatir, pemaksaan berlebihan agar orang lain menghargai yang sedang berpuasa.

Hendaknya mereka memperbaiki kembali pemahaman dan implementasi keislamannya. Pemahaman yang sempit dan dangkal harus diperluas dan diperdalam; pemahaman yang subyektif individual harus diobyektivikasi sehingga konstruktif secara sosial.

Wallahu A'alam bi al-Sawwab

34 komentar:

Admin 14 Desember 2008 pukul 07.00  

Tak tau bagaimana di daerah lain, tapi di tempat saya pemerintah kota pekanbaru dengan tegas mengeluarkan peraturan untuk menutup seluruh warung makan-minum pada siang hari selama bulan ramadhan.

apakah ini dapat kita sebut bahwa pemerintah tidak memikirkan yg tidak ikut berpuasa?.

mungkin FPI geram dengan para pedagang yang membandel dan gak bisa dibilangin, anarkisme pun timbul akibat emosi tersebut apalagi liat yang punya warung ternyata muslim jg.

buat pelanggan yg kena pukulan pada saat itu bearti lagi ketiban sial dia tuh.

mungkin saat ini banyak yg berfikir bahwa FPI itu tidak perlu ada dan hanya berisikan anarkisme saja, tapi jika pada saat ISLAM di injak2 ditindas dan dihina di suatu tempat, Siapa lagi Muslim yang akan maju kedepan? Mana lagi Muslim yg Kuat dan Berani? Apakah semua muslim dan alim ulama punya nyali syuhada?

The Green Planet 14 Desember 2008 pukul 08.09  

Assalamualaikum

Hal ini merupakan maslah yg paralel kompleks, ga bisa hanya dilihat dari 1 sisi. Mgkn bear byk hujatan buat anarkisme FPI, bagi mrk yg melihat dr sisi yg berlawanan dgn FPI. Skrg bagaimana klo citraan kita pindah ke sisi FPI atau bahkan dr kubu putih atau netral, mgk citraa yg dihasilkan akan berbeda bahkan akan sangat berlawanan. Secara pribadi, yg aq percaya, semua hal ada alasannya utk dilakukan. Kita menghjat anarkisme FPI, tp (seperti yg dikatak sang penyamun) apa yg terjadi klo Islam diinjak2? Mgk bkn dr golongan penghujat FPI yg berada dibarisan dpn... justru pihak terhujatlah yg jd front pembela Islam. Kasus warung hanya contoh kecil. Coba bandingkan dgn contoh2 besar diluar Indonesia, keadaan umat Muslim. Kita termasuk yg beruntung sbg muslim yg major di indonesia ini.
Intinya jgn mu di pecah belah... keep smile aja ahh, yg mo ekstrim aq dukung, yg mo jd pecundang jg aq dukung sebb aq termasuk yg pecundang yg belum berbuat apa2 dgn Islam (mgk krn pengetahuan Islamku br aq dpt 4thn lalu. Makasih ya Fina...

Wassalamualaikum

Putty Angelica

pojokjambi 14 Desember 2008 pukul 08.23  

setuju... menurut dedi, FPI adalah udang yang bersembunyi dibalik batu, ada maksud tertentu dibalik semuanya...
mereka beringas dibalik sorban putih... itu adalah tindakan pengecut, dan lebih pengecut lagi ketika mereka melakukannya secara keroyokan, ga berani duel satu lawan satu....

oia lam kenal ya...

Pensil 14 Desember 2008 pukul 08.24  

Terima Kasih buat Sang Penyamun dan Putty Angelica Laurent.

Nyali Syuhada harus dibarengi dengan etika dan akhlak yang terpuji. Berperang juga karna sikon serta kondisi yang tertindas dan terjajah. Politik dilawan dengan politik, perang dibalas dengan peperangan.

The Green Planet 14 Desember 2008 pukul 08.33  

Assalamualaikum, lagi...

Justru itu yg ku maksud, Islam itu global bkn indonesia saja. Islam dmn2 (hampir) sudah di perangi. Bahkan klo kita mo kritis, entertainment sbg santapan kita sehari2, brp persen yg support Islam?? Klo menurt analisisku yg masih awam ini, kabanyakan justru yg di larang Al quran sist,,, dan ironi kita itu santai, welcome duduk manis, menghujat 1 golongan yg membela Islam. Sbnrnya siapa sih yg ga tau islam?? Jelas "aku salah satunya" dan siapa yg lbh tahu Islam diantara penghujat dan yg dihujat (mereka masih 1 golongan). Si ekstrimis yang gila frontal line atau si pecinta kursi hujat yg nyaman dan manis?? :)

Wassalamualaikum, lagi...

Putty Angelica

Pensil 14 Desember 2008 pukul 08.46  

Wassalamu'alaikum

Rilex Putty Angelica Laurent, hehehe... duh permasalahannya jadi melebar gini ya...
Saya senang dengan gagasan FPI untuk membela Islam bahkan saya setuju.

Saya cuman khawatir dengan Massa FPI menjadi beringas saat mengetahui ada tempat makan yang berjualan secara terbuka di bulan puasa. Mereka merusak warung itu dan memukul seorang pelanggannya. Sedangkan sang pemilik tak bisa berbuat apa-apa.

Yang seperti ini akan merusak citra Islam.

Seno 14 Desember 2008 pukul 09.39  

Saya juga tidak setuju dengan tindakan FPI yang memang terkenal brutal.

Kalau tingkahnya seperti itu, apa bedanya sama preman? Beda pakaian doang dong?

ROe Salampessy 14 Desember 2008 pukul 09.51  

ikutan rame2in juga ahh... hehehe..

saya mengutip tulisan fina:

Saya rasa pemahaman mereka yang tidak proporsional tentang agama, baik karena kesalahan metodenya maupun karena kedangkalan ilmu agamanya. Dari segi metode, mereka yang cenderung memahami agama secara literal (dhahiry) misalnya, akan potensial menjadi pemeluk agama yang ekstrem.

Sedikit pertanyaan buat fina:
fina merasa pemahaman mereka kurang proposional ttg agama, trus yang proporsional itu yang gimana yah? hehe.... dijawab yah? kan biar roe juga tahu, biar roe gak BODOH. hehe.. peace deh.

Pensil 14 Desember 2008 pukul 12.39  

Makasih buat Bang ROe.
Emm... pertanyaannya sedikit tapi berat banget, hehehe... da’i dan aktifis Islam hendaknya menyeru ummat dengan sikap adil, moderat, seimbang dan tidak melarang berlebih-lebihan yang diistilahkan dengan ekstrem. Bukan malah mengesankan sikap yang kasar dan mencari pendapat yang paling keras dalam bersikap dan berfatwa, dan berargumen bahwa ini termasuk wala’ dan bara’

Allah berfirman:

“Demikianlah KAMI jadikan kamu ummat yang adil dan moderat (wasathan) supaya kalian menjadi saksi atas manusia.” (QS 2:143).

Wallahu A'alam bi al-Sawwab...

Tatang Taufik 14 Desember 2008 pukul 13.03  

Karena Fina minta saran pakde tentang posting ini, jawaban singkat pakde begini:
1. Tentang muatan foto [gambar lain] dlm tulisan bisa membantu penjelasan. Tetapi sebaiknya dipertimbangkan apakah itu memang akan menambah nilai baik informasi yg akan kita sampaikan atau justru 'mencederai' kelompok lain atau perasaan masyarakat.
2. Kritik yg baik adalah yg dilandasi niat ikhlas [hati kita bersih krn ini ibadah] dan disampaikan dg cara yg baik [tdk melupakan 'kesantunan', menjernihkan/memberikan solusi bukan menambah kekisruhan], serta menjaga/menghargai perbedaan pendapat orang lain.
Jika [misalnya] kritik kita mendapat kritik jg dan kita menyadari keliru, ya kita pun hrs 'punya keberanian' untuk mengoreksi, termasuk mungkin saja menghapus posting kita.
Pakde gak mengomentari 'isinya' ya. Asah saja terus ketajaman Fina menyampaikan kritik sosial. Kekhawatiran kita jg ada gunanya utk mengontrol diri kita sendiri. Kan ini jg proses pembelajaran buat Fina. Semoga semua itu memberikan kemaslahatan yg besar . . .
Salam.

Pensil 14 Desember 2008 pukul 14.12  

Pakde, terima kasih atas saran dan masukannya. Mudah-mudahan bermanfaat buat fina.

Wasum Diwa 14 Desember 2008 pukul 20.20  

Yang merusak (kurang bertakwa.
Yang dagang (mengapa dagangnya tidak ba'da asyar saja? Biasanya yang sedang berpuasa juga banyak mencari makanan tuk buka puasa).

Nyante Aza Lae 14 Desember 2008 pukul 21.34  

keberadaan FP ada baiknya juga,..yah paling tidak melaksanakan fungsi kontrol yg "belum berjalan maksimal"..
tp mmg seharusnya mrk juga dapat "memilah dan memilih" secara "bijak"..dan itupun tidak harus dengan tindakan kekerasan.

Boni Wardhana 14 Desember 2008 pukul 22.17  

Saya percaya Islam (dan semua agama) intinya adalah kedamaian. FPI? Hanya mengutuk takkan membuat mereka lantas cinta damai. Tapi kita bisa berbuat apa? Mereka sudah terlahir dengan karakter keras seperti itu. Karena saya non muslim, saya hanya berharap saudara-saudara muslim saya mampu mengimbangi aksi brutal FPI dengan aksi-aksi damai yang menyejukkan dan dapat membuka mata dunia tentang indahnya Islam.

Zeskya 16 Desember 2008 pukul 00.15  

Yakin gak itu semua anggota FPI? Apakah kita yakin itu bukan penyusup???
Sebaiknya kita jangan terlalu percaya dulu dengan adanya berita2 yang selalu memojokkan mereka. Selidiki dulu baru kita bisa men-judge mereka.
Salah berkata maka bisa jadi fitnah dunia akhirat...
:)

Pensil 16 Desember 2008 pukul 01.02  

Terima kasih buat Zeskya.

Realitanya memang seperti itu. Kalau memang ada penyusup, kenapa tidak ada filter dari sang ketua?

Dari segi bicara mereka kurang berakhlak. Lihat saja cara berbicaranya...!!! Nah dari sini fina ingin tau... Tunjukkan moral yang baik...

Di satu sisi mereka mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Khusunya generasi FPI.

Sebagaimana firman Allah "Dan hendaklah ada diantara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung" (QS Ali Imran : 104).

Umi Rina 16 Desember 2008 pukul 03.52  

Adik Fina yang sholihah,
Menurut Umi, dalam 'Catatan Fina' ini ada unsur menghakimi orang lain, dan hal ini sangat sensitif.
Umi setuju pendapat Pakde bahwa dalam menyampaikan kritik, hati kita harus bersih dan ikhlas sehingga yang kita sampaikan bisa objektif dan efektif.
OK, keep on broaden your horizons, honey...:)

Pensil 16 Desember 2008 pukul 07.37  

Terima kasih umi atas kritikannya. Benar-benar bijak. Ini yang fina tunggu...

Nah... sudah ketemu kan... kritik serta saran dari pakde dan umi bukan hanya untuk fina saja. Tetapi untuk kita semua, juga buat saudara-saudara kita anggota FPI.

Menegur kesalahan merupakan tindakan yang diperintahkan oleh Islam. Hanya saja butuh strategi yang tepat agar teguran itu bisa membuat perubahan bagi orang yang ditegur sehingga ia mau menyadari kesalahannya.

Allah berfirman, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (Q.S. An-Nahl ;125)

Ismail Habib 17 Desember 2008 pukul 00.06  

FPI (dan perilaku anarkisnya -at least yang diberitakan media-) menurut saya cuma efek dari kegagalan sistem untuk melindungi ummat. Mirip-miriplah dengan Al-Qaeda (yang lagi-lagi, seperti diberitakan media, benar salahnya Wallahualam).

Btw, saya sepakat bahwa pelarangan warung untuk buka di siang hari di saat puasa itu hal yang tidak perlu. Pemeluk agama lain memang perlu memberi toleransi kepada umat Islam yang berpuasa, tapi umat Islam juga harus bertoleransi terhadap mereka yang tidak berpuasa.

Dien 17 Desember 2008 pukul 06.09  

Sebenarnya agama Islam itu agama yang toleran dan terbuka. Melalui risalahnya, Islam menunjukkan kepada dunia bahwa agama Islam adalah agama yang ramah, moderat dan menentang perilaku radikal. Yang sama-sama kita sayangkan adalah perilaku sebagian rekan-rekan fundamentalis, ekstrimis atau Islam garis keras yang justru memberikan noda dengan kelakuan mereka terhadap Islam sendiri. Kondisi ini diperparah lagi oleh adanya kebiasaan saling mengkafirkan dan mencela diantara kita sesama muslim. Hanya karena berbeda manhaj dan serta merta mengecap kalau mereka itu kafir. Seringkali hal tersebut bahkan berujung ke arah pembunuhan dan pertumpahan darah. Kalau ini berlanjut, ia bisa menjadi bumerang yang mencelakakan kita.

Inilah alasan mengapa akhirnya dunia memberikan label teroris terhadap kita. Lalau dalam kondisi seperti ini, kita akan bertanya; siapa sebenarnya yang melekatkan label teroris dalam Islam?

Dien 17 Desember 2008 pukul 06.47  

Mengomentari tulisan saudara acex. Jangan samakan FPI dengan Nabi Khaidir AS, jelas-jelas jauh standarnya. Karna Beliau diberi mu'jizat oleh Allah. Kalau semua orang beranggap dirinya seperti Nabi Khaidir tanpa memiliki etika dalam Menegur kesalahan orang lain, bisa rusak tatanan masyarakat.

Islam meletakkan etika bukan hanya sebagai standar yang mengatur tatanan interaksi antar sesama manusia. Lebih dari itu, Islam memposisikan etika sebagai sebuah pedoman yang mengatur mekanisme hidup, mengatur bagaimana zahir dan batin manusia, mengatur hubungan manusia dari dua dimensi; vertikal dan horizontal. Dalam bahasa agama, etika ini disebut dengan 'akhlak'.

Syaiful Safril 18 Desember 2008 pukul 03.32  

FPI = Kaum bar - bar yang berpeci..
ngga menyertakan nilai - nilai kemausiaan... aku bukannya ngga setuju ada FPI.. malah bagus kok.. tuk mengawal syiar2 islam.. tapi org2 di dalamnya yg keliru....

Syaiful Safril 18 Desember 2008 pukul 04.13  

ngga perlu banyak - banyak komennya... menurutku FPI tuh Forum Islam yg kebablasan, Anarkis, benar deh yang di tuangkan slank dalam lagunya GOSSIP JALANAN.. udah dengar toh..?? Kaum bar-bar yg berpeci...

I Love Islam But Not FPI..

Muhammad Sunaryo 18 Desember 2008 pukul 05.34  

assalamu'alaikum..
1)
Masalah buka warung makan dibulan puasa.. sbrnya kt kembali kepada apa itu puasa = beribadah pada Allah dengan menahan hawa nafsu baik dari lapar dan haus serta dri perbuatan syaitan..
sebenarnya sah-sah saja membuka warund dibulan puasa.. masalahnya cuma menghargai, menghormati terhadap orang yang berpuasa itu
td..
Gimana klo ga buka warung makan sedang usaha nya cm warung makan
2)
Seharusnya sikap si non muslim itu bisa menghormati orng2 muslim yang berpuasa.. dan bagi si muslim itu pun mereka harus mengerti.. kalau mereka lihat sinon muslim td makan misalnya.. ya biarin aja.. jangan cm gara hal sprti itu pahala puasa kita hilang.. karena kebencian, dengki,
dan ada pepatah arab berkata "bila mana semakin berat godaan itu datang maka semakin sulit menghadapinya tapi semakin banyak pula lah pahalanya.."

begitu lah dri apa yng saya sudah pelajari..!! insya Allah semua ini akan jadi ladang pahala buat kita semua..!!

Unknown 18 Desember 2008 pukul 09.49  

aduh abang-abang jangan pada ribut (setiap orang punya kepintaran bahasa dan pendapat) mending kita balik aja ke agama kita toh kita sendiri tau siapa yang salah dan siapa yang benar (kalau menurut abang2,abang2 lebih benar ya mending simpan dalam hati aja dulu daripada ribut karena kebenaran wanginya pasti tercium), jadikan agama pendingin hati agar tidak kacau dan terpecah belah mau jadi apa kita ini, kalau sama warna aja dah kaya terompet ama lonceng.

ya udah saya yang pertama ngalah demi kebenaran ada yang ikut?

Xitalho 19 Desember 2008 pukul 03.51  

Kontrol terhadap mental umat, harus..! Minta orang lain untuk toleran thdp kita juga syah...! Syare'at kudu ditegakkan wajib, cuma caranya khan bertahap... pendidikan saja butuh waktu bertahun-tahun. Jika memang FPI ingin mengajukan diri sebagai penjaga syariah, lakukanlah dengan cara santun dan mendidik. Adakan pendekatan sosial dan ekonomi, edukasi mereka..jadikan kalangan abangan di negeri ini manusia2 yang ngeh dengan agamanya. Baru kalo sudah ditata masih mbalelo.. (murtad/munafik dll) sah untuk di pukul sebagai pelajaran... agar kembali ke jalan yang benar. Punishment berlaku setelah : Nasehat tidak mempan, ajuran tidak digubris, larangan tidak dihiraukan...
Ribet..ya memang ribet karena kita berurusan dengan manusia.... kalo ngurusin manusia gampang Allah SWT gak repot2 mengutus Rasulullah an para nabi lainnya.
Pertanyaannya : FPI pernah turun langsung memperbaiki ekonomi, sosial, pendidikan kaum yang mereka cap mabalelo itu pa belon? Bisa saja warung jual siang saat Ramadhan karena mereka memang dikejar setoran kaum rentenir..who knows....

Kepala Besar 21 Desember 2008 pukul 21.05  

hmmmm...

gimana yah. kalo ngeliat berita media massa terutama media elektronik, kita ngeliatnya "seolah2" FPI bersalah. tapi kita juga harus fair, banyak2 browsing, nyari tau, gimana sih media itu? adakah agenda tersembunyi dibalik pemberitaan media? kenapa yang dikasih liat tuh pas fpi nya ngerusak aja? kenapa ga dibahas provokasi terhadap mereka?
adalah tugas kita membela panji islam. mungkin salah satunya dengan mencoba mencari tau penyebab salah satu ormas islam bertindak anarkis. sehingga pada akhirnya pemikiran kita tidak hanya berdasarkan opini media. betul??? hehehe

Anonim 30 Desember 2008 pukul 15.52  

Kalau untuk kebahagiaan bersama seharusnya FPI dan ormas lain mengerti bahwa kekerasan itu salah dan bukan solusi

lastiko hary murti 3 Januari 2009 pukul 08.59  

ada pasukan Abu bakar yang berjuang dengan ilmu

ada pasukan Ali yang berjuang dengan harta


ada pula pasukan Umar yang berjuang dengan otot.

Janganlah pisahkan mata rantai ini karena ini Kekuatan ISLAM sebenarnya

Zeskya 7 Januari 2009 pukul 16.03  

Waah..bener juga kata Pakde ama Umi Rina, disini bisa jadi banyak opini yang keluar, baik yang pro maupun kontra. Sedangkan mbak Fina nya kok stop untuk komen???
Sebaiknya untuk komentar di tutup aja dulu sementara, takutnya semakin "jauh" nanti semakin banyak opini yang keluar (ini hanya saran aja loh). Aku hanya mau sedikit komentar (padahal udah banyak tuh :p )
KEBENARAN yang hakiki hanyalah milik Allah, semua perbuatan walaupun sebesar biji zarah akan tetap diperhitungkan di Yaumil Akhir nanti.

Pensil 8 Januari 2009 pukul 01.14  

Terima kasih buat Zeskya, usulan dan komentarnya sangat bagus.

Menurut saya, opini para pembaca masih bagus. Tidak pelu ditutup.

Full Download 8 Januari 2009 pukul 05.16  

Maaf ya mbak Fina, aku dapat sedikit info dari situs mana aku lupa, tapi kalau gak salah ini katanya adalah sebuah email yang di copas lalu dijadikan sebuah postingan.Ini hanya memandang dari segi netral aja,jadi mohon jangan salah diartikan ya? Jadi katanya gini:


Selasa, 3 Jun 08 07:17 WIB
Assalamualaikum Wr. Wb.
Ustadz, saya mau menanyakan mengenai masalah FPI. Saya sebenarnya salut terhadap pergerakan mereka yang langsung terjun memberantas kemaksiatan dimasyarakat.
Tetapi saya melihat di media TV kelompok tersebut tidak terkendali sampai melakukan tindakan anarkis seperti merusak bus/kendaraan yang dikendarai oleh sebuah kelompok partai yang dianggap beraliran Komunis.
Ustadz, apakah FPI itu sebenarnya dan apakah jalur dakwah mereka baik?
Akhwat

Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebenarnya yang paling berhak untuk menjawab pertanyaan anda adalah teman-teman dari FPI sendiri, bukan kami. Namun kalau sekedar memberi komentar sekilas yang mungkin benar dan mungkin tidak, kira-kira jawabannya begini:

Apa yang anda lihat tentang 'aksi-aksi anarkis' Front Pembela Islam (FPI) di media, tidak pernah lepas dari penilaian subjektif dan objektif media itu sendiri. Kalau kesannya aksi-aksi itu anarkis, memang liputanya memang dibuat sedemikian rupa, setidaknya kesan anarkis itu memang diekspose, entah tujuannya untuk memojokkan posisi FPI, atau untuk menggambarkan betapa umat Islam itu anarkis atau memang sekedar kerjaan insan media yang haus sensasi.

Yang terakhir itu dimungkinkan karena karekteristik media, terutama televisi memang butuh liputan dan gambar yang sensasional. Gambar-gambar yang menampilkan proses awal di mana para anggota FPI sedang melakukan negosiasi kepada para pemilik tempat hiburan yang secara hukum memang melanggar peraturan resmi, nyaris tidak menarik untuk ditampilkan.

Tetapi ketika pihak pengelola tempat hiburan melakukan pelemparan dan provokasi, lalu FPI mempertahankan diri atau balas menyerang, secara gambar memang merupakan momen yang cukup menarik. Gambar para aktifis merusak tempat hiburan itulah yang dinaikkan di layar kaca. Karena secara visual, gambar itu lebih menarik ketimbang gambar orang sedang diskusi yang terlihat hanya pasif dan itu-itu saja.

Namun tidak tertutup kemungkinan ada unsur kesengajaan dalam penayangan gambar anarkisme yang terjadi. Sangat dimungkinkan bahwa pihak media dimanfaatkan oleh para cukong pemilik tempat hiburan yang bergelimang dengan harta itu untuk menampilkan kesan seolah-olah FPI itu tidak lebih dari segerombolan orang yang bertindak anarkis.

Mengapa analisa itu muncul?
Karena tindak anarki yang ditampilkan berulang-ulang di media itu nyaris tidak pernah menyentuh akar masalah. Tidak pernah diulas kenapa sampai terjadi tindakan itu. Media seolah-olahbagai macan ompong ketika harus bicara tentang para pengusaha tempat hiburan yang melanggar Perda dan perundangan. Yang dimunculkan selalu kesan bahwa FPI adalah pelaku tindak anarki. Namun pengusaha tempat maksiat yang jelas-jelas melanggar hukum negara dan sekaligus hukum agama, sama sekali tidak pernah diungkap.

Mengapa tidak pernah diungkap?
Karena para cukong itu punya uang tak terhingga jumlahnya untuk bisa membuat para wartawan, jurnalis bahkan pemred media sekalipun untuk duduk manis dan tenang, tidak mengorek kesalahan para pengusaha maksiat. Sebaliknya, uang juga bisa membuat mereka lebih fasih untuk mengatakan bahwa biang keroknya adalah FPI.

Bahkan uang mereka bisa membuat pihak aparat kepolisian pun duduk manis, diam seolah-olah tidak tahu bahwa ada pelanggaran berat yang sedang terjadi di depan hidungnya.
Di negeri kita, kebanyakan media dan dan institusi kepolisian memang masih belum bisa gagah seperti yang sering kita lihat di film-film idealis. Mungkin semua itu masih ada di 'Republik Mimpi'.

Dan kekuatan rakyat yang diwakili oleh organisasi semacam FPI masih harus terus menerima nasib buruk, yaitu dipelintir posisinya di media. Sayangnya, FPI sendiri juga tidak punya kekuatan media yang kuat untuk menangkis fitnah yang selalu memojokkan posisi mereka. Ini kritik positif buat teman-teman di FPI untuk punya perhatian lebih dari sisi media center.

Niat, tujuan dan idealisme mereka untuk beramar makruf dan nahi mungkar tidak pernah ada yang menyangsikan, kecuali oleh mereka yang suka maksiat dan berlumur dosa. Tinggal bagaimana mereka sering-sering duduk bersama dengan elemen lain umat Islam, bertukar pikiran dan berdiskusi, sebelum melakukan aksi dan tindakan. Agar tindakan mereka tidak terkesan bersifat individualis dan jalan sendiri, melainkan hasil dari musyawarah dengan banyak unsur dan elemen umat.

Ajaklah ormas-ormas Islam untuk mengupas semua masalah yang ada, tampilkan data dan fakta, beri informasi dan bangkitkan semangat perjuangan para petinggi ormas dan orsospol yang punya perhatian dalam masalah ini. Dan minta masukan dari masing-masing mereka dan jadikan masalah ini menjadi masalah bersama, bukan hanya masalah buat FPI saja.

Dan jangan lupa, FPI perlu menggandeng secara lebih serius teman-teman jusnalis muslim termasuk media-media yang konsern dengan amar makruf nahi mungkar. Agar tindakan mereka diback-up oleh kekuatan media tandingan.

Kalau dijelek-jelekkan oleh media tertentu, setidaknya ada media lain yang bisa memberi second opinion yang berbeda.

Nah, bola ada di tangan anda teman-teman FPI, semoga Allah SWT selalu membimbing niat dan tujuan anda menjadi sebuah solusi yang baik dan jauh dari fitnah.

Sekedar membuat press release tentu teramat lemah, karena pembentukan opini pada dasarnya adalah sebuah medan jihad tersendiri. Kita tidak bisa hanya sekedar melakukan klarifikasi. Kita butuh dukungan dari opini yang kita bentuk sejak awal leat jaringan pers yang kuat, kokoh dan didukung oleh seua elemen umat.

Kenapa tidak dibuat media massa khusus yang selalu mengangkat dasar tindakan dan asal muasal suatu tindakan, jauh sebelum tindakan itu diambil? Mengapa FPI tidak punya 100-an situs yang bekerja keras 24 jam untuk mengundang simpati dan membentuk opini?

Mengapa FPI tidak berpikir mendirikan sebuah stasiun radio yang akan menggiring opini umat Islam agar berpikir kritis dan menyampaikan informasi yang sebenarnya-benarnya? Atau setidaknya mengapa FPI tidak menggandeng umat Islam yang lain yang punya radio-radio? Banyak radio milik umat Islam dibiarkan 'nganggur' tidak punya konten, yang pada akhirnya cuma menyetel lagu dangdut. Sayang sekali bukan?

Ketika Amerika menyerbu Iraq kemarin, apa yang dilakukan oleh TV Aljazeera sudah sangat luar biasa. Opini bahwa Amerika itu penjahat perang berhasl dibentuk. Hampir semua mata tidak lagi mempedulikan TV asing lainnya. Yang mereka tonton hanya satu, Aljazeera.

Sangat berbeda ketika dahulu di zaman Iraq vs Kuwait yang masih dikuasai CNN. Umat Islam saat itu belum punya kekuatan pers yang berani mengatakan tidak ketika dipaksa bilang iya.

Nah, sudah saatnya teman-teman FPI membentuk jaringan pers yang kuat dan mantap, mencakup semua jaringan pers yang milik umat Islam yang ada.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Pensil 8 Januari 2009 pukul 06.08  

Info dan masukan yang sangat menarik buat FPI dari Ahmad Sarwat, Lc.

Makasih ya, Full Download.

AMIR HAMZAH 9 Januari 2009 pukul 00.01  

KLo memang bener ada yg berani menginjak2 Islam, sebagai umat Islam tentu kita tidak akan rela bila perlu kita harus melawan meskipun dengan kekerasan!

tapi kenyatanya apa? justru tindakan yg dilakukan FPI itulah yg menginjak2 Islam, sekarang dengan tindakan yg FPI lakukan menjadikan imej Islam adalah agama yg penuh dengan kekerasan, brutal, padahal sesungguhnya Islam adalah agama yg Rahmatan lil 'alamin!

cerita sedikit boleh kan!

tanggal 4 jan 09 kemarin di solo kota tempat aq tinggal sekarang, tepatnya di jl. Selamet Ryadi ada demo menentang agresi israel ke palestina, mereka berbaris di tengah2 jalan! membuat kemacetan yg cukup panjang! mereka memakai atribut Islam (sorban, kopyah, tongkat, dll) tidak sedikit mereka berbuat anarkis terhadap pengguna jalan lain!
waktu aq melintas, mereka menggedor2 kaca dan pintu mobilku!
spontan aq turun ku ambil tongkat yg dibawa salah satu pendemo! aq pukulkan di tengah jalan! mereka merespon hampir mengeroyok aq!
mungkin memang itu hari aq sedang beruntung, tiba2 saja banyak orang2 disekitar yg membela aq, mungkin mereka sudah jengah melihat keangkuhan pendemo2 yg merasa sok kuat itu, sebelum terjadi bentrok polisi datang mengamankan, dan membubarkan para pendemo!
dari peristiwa tersebut, kelihatan kan? maksud hati ingin menarik simpati untuk warga palestina tetapi apa hasilnya? karena tindakan anarkis yg mereka lakukan malah tidak mendapatkan simpati malah membuat mereka dibenci!
jika ingin melawan kekejaman orang2 kafir mereka salah tempat bukan disini tempatnya, sana langsung di palestina!

sama juga halnya tentang syiar Islam yg dilakukan oleh FPI, mereka berdalih segala tindakan yg mereka lakukan demi agama Islam sedangkan yg menjadi korban orang yg tidak berdosa, sedangkan yg mereka katakan ternyata sama saja dengan dalih israel yg menyerang palestina dengan alasan membalas serangan Hamas tapi juga yg menjadi korban lagi2 warga sipil, anak2 wanita dan orang tua yg tidak berdosa!

terus apa bedanya tindakan yg FPI lakukan dengan tindakan zionis israel?
FPI semakin merusak citra Islam!

tapi saya tidak menyalahkan sepenuhnya tindakan yg dilakukan FPI tergantung permsalahanya apa jika tindakan yg dilakukan yg seperti merusak warung yg berjualan pada saat puasa tentu saya tidak setuju!

tapi jika tindakan FPI menyerang dan membubarkan Ahmadiyah tentu saya sangat setuju, kita harus musnahkan Ahmadiyah! karena sangat kurang ajar telah menodai Islam!

Tatkala bencana datang dan merusak banyak sumber penghidupan, seharusnya manusia mengoreksi diri akan tingkah lakunya yang secara tidak sadar telah mengeksploitasi lingkungan alamnya.