Akhlak; Cermin Kebaikan dan Kerusakan Manusia


Sedikit melirik keadaan Negara kita, ketika berupaya memperbaiki kerusakan moral masyarakat, membasmi dekadensi moral secara konstitusional melalui UU, sebagian kecil masyarakat Indonesia berupaya keras menolaknya. Anehnya, penolakan ini justru datang dari kelompok yang menamakan diri pembela perempuan, yang selama ini paling rentan terhadap pelecehan akhlak dan moral.

Masa-masa sekarang ini adalah periode paling memalukan dalam sejarah Indonesia, karena menutup aib dan rasa malu, dianggap bertentangan dengan HAM. Ketaatan terhadap agama dipandang sebagai kejahatan dan diskriminasi. Hampir seluruh kekuatan sekuler, anti agama bangkit menentang RUU Anti Pornografi dan pornoaksi. Celakanya DPR pun memberi ruang bagi kaum anti agama untuk mengekspresikan penolakannya ini. Dalam hal ini siapa sebenarnya yang bertanggung jawab dengan terjadinya dekadensi moral dalam bangsa kita ?

Menyikapi hal tersebut, yang perlu disadari dan dipahami oleh setiap muslim adalah upaya yang harus dilakukan dalam menanamkan akhlak yang baik kepada generasinya sejak kecil, dengan memperhatikan seluruh pendidikan anaknya di dalam keluarganya, sekolahnya dan lingkungan sekitarnya, karena hal itu sangat penting dalam pembentukan karakteristik dan kepribadiannya. Demikian juga pengaruh dalam pergaulannya, yang mana membutuhkan seorang figur yang menjadi filter baginya dalam mengarungi kehidupannya.

Sebagaimana firmanNya 'Dan hendaklah ada diantara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung' (QS Ali Imran : 104).

18 komentar:

Tatang Taufik 14 Desember 2008 pukul 15.48  

Good thoughts . . Posting Fina makin bagus . . . Cuma saya agak ragu dengan butir "anti agama" lho. Tapi ini krn pakde gak tahu persis maksud Fina soal yg satu itu.
Salam

Haris 14 Desember 2008 pukul 17.42  

Kalau saya lihat nih Fin, karena mereka menggunakan dalih agama dengan menerima abagian, dan menolak yang sebagiannya lagi. Tidak menerima secara total/kaffah.

Suadj terlalu banyak kerusakan moral dan akhlak yang terjadi, juga pemutar balikan opini dan fakta.

Perlu niat dan komitemen yang kuat dari semua komponen bangsa untuk memperbaiki hal ini. Paling tidak dari diri kita sendiri dan keluarga kita.

Mari kita mulai dari hal-hal yg kecil dan dari diri kita sendiri.

Admin 14 Desember 2008 pukul 18.03  

Sebuah kontraversi didalam parlemen ataupun masyarakat indonesia merupakan bukti bahwa demokrasi bener2 berjalan di negara ini walau dalam konten agama dan moralitas.

Yang dikatakan Mas Erik memang merupakan solusi terbaik untuk masalah ini.

Umi Rina 14 Desember 2008 pukul 19.52  

Pendidikan akhlaq memagang peranan penting, sejak dalam kandungan sampai ke liang lahat. Dalam hal ini, kaum hawa seperti saya dan Fina (kelak), menjadi ujung tombak kebangkitan 'Akhlaqul Kharimah' di masa-masa mendatang...:)

Boni Wardhana 14 Desember 2008 pukul 21.46  

Fin, tulisanmu sejuk sekali. I'll be right back.

ayu 15 Desember 2008 pukul 01.17  

saya terkesan sama mba' fina yang begitu bagus dalam penulisan artikelnya. semanagt buat mba' fina

Anonim 15 Desember 2008 pukul 09.46  

Setuju mungkin banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan.

Unknown 15 Desember 2008 pukul 11.15  

alhamdulillah, saya bertemu blog ini sehingga mungkin apa yang saya rasakan terwakili,..
nice posting, semoga postingan ini dapat membuka hidayah bagi pembacanya,..

The Diary 15 Desember 2008 pukul 19.26  

artikelnya bermanfaat mbak... akhlak itu bisa baik dan rusak juga dari pengaruh lingkungan

mingto... Biasa saja Tuh.. 16 Desember 2008 pukul 01.57  

waw... ternyata bercermin berbahaya juga yah??? masa sih??

editya 16 Desember 2008 pukul 06.34  

fin tulisannya maknanya dalam ya baguuus

Seno 17 Desember 2008 pukul 05.31  

Saya setuju sama Fina, tapi sekali lagi menegaskan pendapar Sang Penyamun, bahwa perbedaan pendapat menandakan bahwa demokrasi berjalan. Walaupun mungkin saja ada alasan2 tersembunyi dibalik penolakan itu. Kalau semua memilih kuning, nanti tak ada pelangi he..he..

Yang penting pelaksanaannya, percuma saja UU APP dibuat tapi tidak dilaksanakan.

Salut. Top banget deh Fina.

Anonim 17 Desember 2008 pukul 06.23  

sebuah ulasan yg terbuka..
marilah kita mulai dari hal2 terkecil dalam diri dan lingkungan kita

Atca 18 Desember 2008 pukul 04.57  

sebelumnya makasih mba Fina sudah main ke blogku..hingga aku bisa nyampai disini..
postingan yang bagus mba..
Lingkungan keluarga memang berpengaruh terhadap akhlak seseorang tetapi pergaulan juga memberi pengaruh cukup besar..

Acyhome 19 Desember 2008 pukul 19.07  

mo comment apa yaw, acy sich netral aza apapun demi kebaikan pasti acy dukung :)

Syaiful Safril 27 Desember 2008 pukul 15.27  

SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 2009 YA..??
SUKSES FOR FUTURE....

Pensil 27 Desember 2008 pukul 18.49  

Wah sampe lupa nih. Pakde, yang fina makseud anti agama adalah kaum SEKULER

Nyante Aza Lae 29 Desember 2008 pukul 17.36  

k.asset negarapun dijualin..spakat deh mbak fin..tp sorry, ada juga tuh dq post..sila cek di : http://kurnia-one75.blogspot.com/2008/05/kado-pahit-di-hari-kebangkitan-100.htm

Tatkala bencana datang dan merusak banyak sumber penghidupan, seharusnya manusia mengoreksi diri akan tingkah lakunya yang secara tidak sadar telah mengeksploitasi lingkungan alamnya.