Etika sebagai sebuah pedoman yang mengatur mekanisme hidup


Manusia adalah makhluk Allah yang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan makhluk-makluk-Nya yang lain. Keistimewaan itu terletak pada adanya sebuah benda dalam organ tubuh manusia yang disebut dengan otak. Otak manusia memiliki fungsi untuk berfikir, menelaah, memahami dan menganalisa segala fenomena yang ditemui oleh lima panca indera manusia. Dalam dimensi lain, sedikit banyak sesungguhnya manusia memiliki sebuah potensi kemiripan dengan binatang dan tumbuhan. Yaitu sama-sama mengalami perkembangan organ tubuh, sama-sama bergerak dan tumbuh. Hewan misalnya, ia membutuhkan sebuah proses interaksi dengan seksama hewan agar bisa survive mengarungi kehidupan. Agar bisa berkembang biak, hewan memerlukan hewan lain dalam satu spesies untuk dibuahi sehingga kemudian muncul 'generasi penerus'. Yang membedakan hidup ala manusia dan hidup ala makhluk lainnya adalah bahwa dalam struktur kehidupan manusia, ada sebuah standar yang mengatur pola berhubungan dengan yang lain sehingga berjalan lebih teratur. Standar inilah yang disebut dengan etika.

Tidak bisa dibanyangkan bila kehidupan manusia yang kompleks dengan masalah ini, tidak diatur oleh sebuah etika ketuhanan. Barangkali dunia yang kita huni ini tidak akan jauh beda dengan hutan yang didiami oleh hewan-hewan dari berbagai habitat; yang kuat menindas yang lemah, yang besar memakan yang kecil dan lain sebagainya. Islam sangat menekankan pentingnya sebuah etika dan moralitas ketuhanan. Dalam sebuah hadist Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia (HR. Muslim)." Mazhab pemikiran materialis pada dasarnya juga meyakini urgensi sebuah etika kehidupan. Tapi sayangnya, bagi mereka, etika itu hanya berada pada ruang lingkup peraturan dan perundang-undangan yang diatur secara legal-formal an sich. Tidak lebih. Islam jelas berada pada posisi berseberangan dengan produk fikir seperti ini. Islam tidak membatasi etika dan permasalahan moral hanya pada dustur (undang-undang) resmi yang tertulis dan ada di buku-buku kompilasi perundang-undangan. Sebab, Islam meletakkan etika bukan hanya sebagai standar yang mengatur tatanan interaksi antar sesama manusia. Lebih dari itu, Islam memposisikan etika sebagai sebuah pedoman yang mengatur mekanisme hidup, mengatur bagaimana zahir dan batin manusia, mengatur hubungan manusia dari dua dimensi; vertikal dan horizontal. Dalam bahasa agama, etika ini disebut dengan 'akhlak'.

Perbincangan seputar barat dan timur memang seakan-akan tak ada habisnya. Setiap permasalahan yang terjadi di dunia timur seolah-olah selalu diidentikkan dengan barat sebagai penyebabnya. Kemerosotan moral yang menggejala di barat hendak dipaksakan agar juga berlaku di dunia timur. Ini sebenarnya tidak terlepas dari permasalahan hegemoni. Barat yang anti Tuhan atau paling tidak anti nilai-nilai ketuhanan, mau tidak mau harus diakui sedang berada pada posisi yang cukup menguntungkan bagi sebuah proses pemaksaan nilai-nilai kehidupan. Standar-standar ini sejalan dan erat berkaitan dengan diskursus seputar dua kata ‘kebaikan’ ‘dan keburukan’ itu sendiri, dirujuk dari sumber yang manakah; demikian terjadi baik dikalangan filosof muslim maupun barat. Definisi yang mendekati kesimpulan ranah diskursus di atas yaitu; bahwa kebaikan merupakan segala sesuatu yang bisa menghantarkan manusia kepada keinginan yang ia dambakan. Dirujuk kepada nalar atau instink yang dianugerahkan pada manusia seperti yang dikemukakan oleh kaum materialisme. Ataukah berpangkal dari bentuk fitrah yang sudah dialirkan oleh Allah pada diri manusia ketika awal penciptaannya; dengan tentu dikawal oleh syariat. Disinilah teori etika muslim mendapat poin tersendiri. Sebab segala tindakan seorang muslim diorientasikan seluruhnya pada Tuhan Yang Maha Absolut; yang Maha Bebas; bukan diorientasikan pada relativisme dunia yang belum tentu pasti arah penekanannya dalam suatu penilaian.

Maka secara umum bisa dibaca, barat meletakkan sebuah etika pada titik yang sulit dipahami(relativitas). Mana sebenarnya standar yang mereka pakai, sulit untuk dicari jawabannya. Hanya barangkali satu kata yang mewakilinya; kebebasan. Semua manusia bebas berkespresi; mereka boleh saja telanjang di muka umum asal mereka mau. Manusia boleh berpendapat dan mengeluarkan ide sekalipun itu mencederai perasaan orang lain. Barangkali, oleh karena itulah, sistem ekonomi yang berkembang di sana adalah sistem ekonomi kapitalis, sistem politik yang mereka pakai adalah politik macheviali; tujuan menghalalkan segala cara.

Masalahnya kemudian, faham liberalisme seperti ini juga menggenjala di negara-negara timur (Islam). Nilai etika di Timur turut bergeser sesuai dengan standar barat. Sesuatu yang tadinya tidak biasa, seiring dengan dominasi Barat, telah menjadi makanan sehari-hari.

Berbeda dengan barat, Islam mengajarkan bahwa hidup manusia terikat dengan aturan al-Quran dan as-Sunnah. Manusia tidak boleh melanggar apa yang telah digariskan Allah dan Rasul di dalamnya (al-Baqarah: 229), (al-Nisa: 59), (al-Thalaq: 1). Dalam sebuah hadist disebutkan: "Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kamu semua berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan terpelosok ke dalam kesesatan selama-lamanya." Sejatinya, seorang muslim yang baik haruslah menyadari bahwa minhajul hayah-nya adalah al-Quran dan as-Sunnah, bukan budaya hedonis dan liberalis yang dipopulerkan barat. Timbangan baik dan buruk segala perbuatan manusia itu adalah al-Quran dan as-Sunnah semata. Oleh karenanya, etika yang dibawa oleh al-Quran dan as-Sunnah adalah sesuatu yang statis dan tidak berubah. Keluar dari dua hal ini, kerusakan akhlak dan dekadensi moral sudah pasti akan terjadi. WaAllahu a'lam bi al-shawâb.

7 komentar:

Umi Rina 10 Mei 2009 pukul 15.12  

Finaaaa.... Umi kangen banget dech sama Fina, dan tentunya tulisan Fina yang selalu mengajak 'berfikir'.

Allah Ta'ala dan Rasululloh SAW sudah dengan jelas mengatur segalanya dalam kehidupan dunia ini dengan dua yang 'pasti', Al Qur'an dan Al hadist, dan hanya manusia yang mendapat petunjukNya yang mampu berpegang teguh kepada keduanya, tidak terpengaruh justru berpengaruh.

Nice post Fina, glad you're back honey....*hug*

deFranco 10 Mei 2009 pukul 21.00  

Seringkali karena merasa istimewa itulah manusia kemudian bertindak semena-mena terhadap makhluk lain, bahkan kepada sesama manusia sendiri...

Anonim 10 Mei 2009 pukul 22.01  

Memang sulit untuk memfilter pengaruh barat yang sangat besar di negeri kita. Paling tidak kita coba berusaha untuk memfilternya dari rumah dulu, lingkungan terkecil kita.

Senang akhirnya dirimu muncul lagi. Tulisan-tulisannya yang berisi tetap dinanti.
Semangat ya, Fin..

oya, kunjungi juga http://bangfiko.web.id

R10 11 Mei 2009 pukul 19.54  

kehidupan barat ga cocok dengan kehidupan kaum muslimin

kehidupan barat itu sama dengan kehidupan kaum jaman jahiliah

TheOne 12 Mei 2009 pukul 00.59  

informasimu............BENAR

hotshot 12 Mei 2009 pukul 01.59  

sadarkah kita kalau sekarang ini kita sudah kembali ke jaman rimba... paling keliatan dari segi hukum... yang kuat menerkam yg lemah.. kurang lebi seperti itu....

dan barat memulai hal itu
maaf kalo keliru ehehehe

yudha 16 Mei 2009 pukul 16.11  

"Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kamu semua berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan terpelosok ke dalam kesesatan selama-lamanya."

Fin, berapa banyak masjid yang punya Al-Quran dengan terjemahannya ?

sedihkan, mereka membaca sesuatu yang mereka tdk pahami

Tatkala bencana datang dan merusak banyak sumber penghidupan, seharusnya manusia mengoreksi diri akan tingkah lakunya yang secara tidak sadar telah mengeksploitasi lingkungan alamnya.